Judul
Buku : Ekonomi Makro Islam Pendekatan
Teoritis
Pengarang : Nurul Huda
Penerbit : Kencana Prenada Media Group,
Jakarta
Inflasi dalam Perspektif Islam
Kita sebagai umat Islam telah mengetahui bahwa Islam merupakan din yang universal dan
komprehensif, Islam juga telah menunjukkan bukti kejayaannya pada masanya. Jika
sistem ekonomi yang ada menggunakan mata uang yang diterapkan pemerintahan
Islam (Dinar & Dirham) tentu inflasi dapat ditekan sedemikian rupa. Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang selalu menarik untuk
dibahas terutama oleh pemerintah berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap
makro ekonomi agregat: pertumbuhan ekonomi, stabilitas ekonomi, daya saing,
tingkat bunga, dan bahkan distribusi pendapatan. Maka
dari itu dalam Islam tidak mengenal
inflasi karena mata uang yang dipakai mempunyai nilai yang stabil yaitu dinar
dan dirham.
Tetapi menurut ilmuwan Muslim yakni Al-Maqrizi disini ia
membagi inflasi menjadi dua macam yaitu inflasi akibat berkurangnya persediaan
barang dan inflasi akibat kesalahan tangan manusia yang contohnya seperti
korupsi, administrasi yang buruk, pajak yang memberatkan dan jumlah uang yang berlebihan. Dalam hal ini
menurut An-Nabahan pemerintahlah disini yang berkewajiban untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakatnya dengan bertanggung jawab terhadap perekonomian
negara. Dan untuk mewujudkannya pemerintah Islam menggunakan dua kebijakan
yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.
Kebijakan fiskal disini dalam penggunaannya untuk
menekan laju inflasi mempunyai langkah yang dapat diambil yaitu dengan cara
memaksimalkan fungsi penerimaan zakat secara tepat guna, efektif manfaatnya
dengan distribusi yang serba guna dan produktif sesuai dengan pesan dan kesan
syariat Islam serta tujuan sosial ekonomi zakat yang akhirnya dapat menciptakan
stabilitas ekonomi karena penerimaan zakat akan menstabilkan harga dan menekan
inflasi ketika permintaan agregat lebih besar dari pada penawaran agregat. Langkah
lain yang bisa digunakan yaitu dengan cara melakukan segala bentuk transaksi
dengan tanpa menggunakan bunga, tetapi menggunakan sistem bagi hasil bagi
sektor rumah tangga maupun pemerintah dalam pengaturan hasil usaha.
Selanjutnya kebijakan moneter, sejak zaman Rasulullah
kebijakan moneter dengan tanpa menggunakan instrumen bunga sama sekali, karena
bunga selalu memberi tekanan terhadap kegiatan ekonomi sehingga penerapan
kebijakan suku bunga tinggi disini tidak akan mewujudkan ekonomi yang
benar-benar sehat. Dalam perekonomian Islam variabel yang harus diformulasikan
adalah stok uang, yang mana ini adalah tanggung jawab bank, bank Islam disini
harus mengatur kebijakan moneternya sedemikian rupa agar penawaran uang cukup
untuk memenuhi biaya pertumbuhan potensial dalam output jangka menengah maupun
panjang untuk mencapai harga yang stabil dan untuk mencapai tujuan-tujuan
sosio-ekonomi Islam. Maka agar kestabilan ekonomi ini dapat terjaga, ada
beberapa hal yang dilarang yaitu permintaan tidak riil yang hanya untuk
keperluan berjaga-jaga, penimbunan mata uang, transaksi talaqqi rukban yang mana menghadang pedagang dari
kampung untuk berjualan dengan pemberitahuan ketidakpastian harga, transaksi
kali bi kali transaksi future tanpa ada barangnya serta segala
bentuk kegiatan yang mengandung riba.
Menurut Chapra Strategi mekanik kebijakan moneter tidak
hanya mengatur penawaran uang sesuai dengan permintaan riil tetapi juga
membantu tercapainya tujuan-tujuan lain masyarakat Islam yang mana mekanik
tersebut mencakup beberapan elemen yaitu:
_ Target pertumbuhan pada M dan Mo
Jika
kita lihat, Pertumbuhan pada (M) sangat erat kaitannya dengan dengan
pertumbuhan Mo karena itu bank sentral harus mengawasi secara ketat
pertumbuhan Mo dengan cara bank sentral berusaha untuk membuat total
Mo sebagian untuk pemerintah dan sebagai lagi untuk bank komersial
serta lembaga khusus keuangan, untuk bank komersial dan lembaga khusus keuangan
Mo dalam bentuk mudharabah yang mana dalam bank komersial
untuk mengendalikan kredit dan untuk lembaga khusus keuangan untuk membiayai
kegiatan-kegiatan yang produktif.
_ Public
Share of Demand Deposit
Dalam
membantu pemerintah membiayai proyek-proyek yang menguntungkan secara sosial,
bank komersial harus menyerahkan kepada pemerintah jika demand deposit maksimum
telah sampai 25%.
_ Statutory
Reserve Requirement
Bank
sentral dan juga bank-bank komersial perlu untuk mempunyai cadangan 10-20% dari
demand deposit mereka. Karena statutory reserve requirement membantu
memberikan jaminan atas deposit juga membantu penyediaan likuiditas yang
memadai bagi bank.
Maka
dari itu bank mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dibidang keuangan,
dan untuk mencapai tujuan-tujuannya bank haruslah menggunakan metode yang tidak
bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga bank sentral harus meninjau kembali
segala peraturan yang berlaku berkaitan dengan lembaga keuangan
berdasarkan bunga dan mengubahnya sesuai
dengan ajaran Islam. Karena dalam Islam pengawasan terhadap bank lebih
diutamakan, dan pengawasan disini haruslah cukup terbuka dan memberikan
informasi akurat disertai auditing yang memadai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar